Hidup adalah pilihan dan sukses berawal dari langkah-langkah kecil

Waktu Produktif Yang Paling Barokah


Friday, February 20th, 2009

Oleh Habiburrahman El Shirazy

Harian Sindo, 10 Desember 2008

Sering kali ketika mengisi pelatihan menulis, saya ditanya oleh peserta, “Kapan waktu terbaik untuk menulis?” atau “Kapan waktu paling barokah untuk menulis karya?”

Sebenarnya semua waktu yang digunakan untuk kebaikan adalah barokah. Sebab kata barokah, menurut ulama artinya adalah ziyadatul khair, atau tambahnya kebaikan. Selama kita bisa menggunakan waktu kita sebaik-baiknya untuk menambah kebaikan, maka waktu dan umur kita insya Allah barokah.

Namun, memang ada waktu-waktu tertentu yang sebenarnya waktu itu lebih utama dari yang lain. Para ulama melihat waktu sahur, atau waktu menjelang fajar menyingsing adalah waktu yang berlimpah barokah. Ada beberapa hadis nabi yang menjelaskan hal itu. Sayangnya, justru waktu penuh barokah itu sering diabaikan oleh banyak orang.

Seorang cendikiawan bernama Imam Al Khalil Ibnu Ahmad Al Farahidi, yang terkenal dengan kecerdasan pikirannya, pernah mengatakan, “Waktu di mana pikiran manusia dalam kejernihan yang sempurna adalah di waktu sahur.” Dalam kitab Asasul Balaghah, Imam Az Zamakhsari mengatakan, “Di antara ucapan bijak para ulama adalah, “Ketika waktu sahur tiba, maka ketuklah pintuku sehingga engkau mengetahui tempat pikiran dan pendapatku.”

Pemikir besar dari Syiria, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, berpendapat bahwa waktu sahur atau menjelang fajar terbit sejatinya adalah waktu puncak semangat seseorang, puncak seseorang memiliki persediaan tenaga, baik akal maupun fisiknya, serta waktu pemulihan tenaga.

Sastrawan besar dari Maroko, Al Adib Al Imam Abu Ali Al Hasan Ibnu Rasyiq Al Qairawani, dalam bukunya Al Umdah fi Mahasinis Syi’ri wa Adabihi wa Naqdihi” mengatakan, “Di antara hal yang membantu penjernihan pikiran seseorang adalah tidur dengan telentang. Yang pasti, tidak ada sesuatu yang dapat membuka kunci lautan pikiran dan nurani seperti memulai aktivitas kala waktu sahur, yaitu di waktu sesudah tidur. Sebab pada saat itu, konndisi jiwa dan fisik benar-benar prima dan terbebas dari kepayahan akibat kerja fisik di siang hari dan lainnya. Pada saat itu, jiwa seperti dalam kondisi seperti baru dilahirkan kembali. Di samping itu, waktu sahur hawanya sangat lembut, udaranya jernih dan sehat serta tenang di antara udara malam dan siang.

Ada yang berpendapat waktu setelah isya adalah waktu yang baik. Pendapat itu tidaklah salah karena sekali lagi, menurut saya, semua waktu yang melahirkan karya yang baik adalah baik. Namun tetap saja waktu isya tidaklah seutama waktu sahur. Menurut kalangan ahli hikmah, itu karena masuknya kegelapan ke dalam cahaya siang. Hal ini berbeda dengan masuknya cahaya siang ke dalam kegelapan malam di waktu sahur. Selain itu, pada waktu isya, kondisi fisik sudah kepayahan karena aktivitas pada siang hari, hal itu memerlukan istirahat yaitu dengan tidur.

Dengan demikian, waktu sahur, menurut Al Adib Ibnu Rasyiq Al Qairawani, adalah waktu terbaik bagi orang yang ingin menulis puisi, mengarang buku, menulis tentang sesuatu, mempelajari suatu masalah dan memecahkannya. Sementara bagi orang yang ingin menghafal sesuatu waktu tengah malam yang sangat hening adalah waktu yang paling tepat. Dalam sebuah ayat, Allah berfirman, “Inna nasyiatal laili hiya asyaddu wath’an wa aqwamu qiila.”

Para ilmuwan, ulama dan cendekiawan terkemuka dunia banyak yang terbukti sukses dengan memanfaatkan keberkahan waktu sahur. Imam Ibnu Jarir At Thabari yang mendapat predikat ulama ensiklopedis itu berada di barisan depan ilmuwan yang tidak pernah menyia-nyiakan waktu sahur. Imam Nawawi pernah tidak tidur malam selama dua tahun demi agar tidak terlewatkan barokah waktu sahur. Dari tangan Imam Nawawi, lahirlah karya-karya kanon dalam bidang fikih, hadis, dan lain-lainnya.

Ulama kontemporer yang menulis karya lebih dari seribu buku adalah sang hakimul ummat, orang yang bijaksana dari umat ini, yaitu Imam At Tahanuwi dari India. Dia meninggal dalam usia relatif muda, berhasil menulis lebih dari seribu buku karena disiplinnya yang luar biasa memanfaatkan waktu, terutama waktu menjelang terbitnya fajar.

Ibnu Hazm termasuk ulama produktif, dia meninggalkan karya sejumlah 400 jilid, yang jika dihitung per lembarnya sekitar 80.000 lembar. Hal itu terjadi juga karena dia termasuk ahli qiyamul lail, ahli shalat tahajud, dan selalu terjaga pada waktu sahur untuk menulis karya.

Juga Imam Ar Razi, yang menulis karya-karya monumental di bidang fiqih, hadis, maupun sejarah. Di antara karyanya yang terkenal adalah Al Musnad dalam ribuan halaman. Beliau termasuk penulis yang banyak menulis karya pada waktu sahur.

Konon, Prof M Quraish Shihab juga termasuk penulis yang selalu produktif pada waktu sahur. Tafsir Al Mishbah-nya, yang kini termasuk tafsir yang laris di pasaran, sebagiannya ditulis kala waktu sahur. Saya sendiri juga merampungkan beberapa karya di keheningan malam dan waktu sahur. Meskipun banyak juga tulisan yang saya buat di luar waktu sahur. Namun, ketajaman waktu sahur memang terasa berbeda dengan waktu-waktu yang lain.

Di antara hal yang berkenaan meulis karya ada hal yang seyogianya diperhatikan, yaitu tingkatan bobot suatu karya. Ada karya yang sangat serius yang membutuhkan curahan pikiran lebih. Ada karya yang bisa ditulis tanpa mengerahkan segenap curahan pikiran.

Untuk karya yang sangat serius, yang membutuhkan energi lebih, curahan perhatian prima, analisis yang sangat detil, maka sebaiknya dikerjakan pada waktu yang paling prima yaitu pada waktu sahur.

Yang seyogianya tidak diabaikan oleh penulis beriman adalah sepertiga malam terakhir, yaitu pada waktu sahur, Allah SWT benar-benar membuka lebar-lebar pintu langitnya. Samudera barokah yang tidak diturunkan pada waktu siang saat itu diturunkan oleh Allah SWT. Inilah saatnya para penulis, dan siapa pun yang ingin sukses meraup barokah sebanyak-banyaknya.

Sayangnya, waktu sahur, bagi kebanyakan manusia saat ini, adalah waktu yang paling berat untuk bangun dari tidur dan terjaga. Waktu sahur sering terlewatkan begitu saja. Dengan demikian, terlewatlah bagi mereka waktu-waktu jiwa berada di puncak kejernihannya dan pikiran di puncak ketajamannya serta fisik di puncak primanya. Lenyap pula keberkahan dan keutamaan waktu sahur yang nilainya tiada terkira.

Jika para pemimpin negeri ini bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sahur untuk bermunajat kepada Allah SWT dan berpikir mencari solusi bagi krisis multidimensi yang melanda bangsa ini, niscaya jalan keluar itu akan datang bersama datangnya sang fajar.

Jika para pelajar, dan mahasiswa negeri ini bersungguh-sungguh mengisi waktu sahurnya dengan belajar, niscaya negeri ini segera berada dalam garda depan negara-negara yang maju di dunia.

Dan jika seluruh negeri ini berusaha tidak melewatkan keberkahan waktu sahur lewat begitu saja, niscaya negeri ini menjadi negeri yang dalam istilah para khatib shalat Jum’at “baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur”. Atau, dalam istilah kakek saya, negeri yang gemah ripah loh jinawi. Negeri yang makmur, aman, dan sejahtera. Insya Allah.

Tags: , , ,

Leave a Reply